The Unique Egyptian



The namelist of students who has not yet received their student card we send last week has not yet been moved from her desk. It was the second time we met the person in charge of delivering the cards personally to get it finish. We waited outside the office for awhile while the person made some calls.

Anonymous : It really makes me mad, why are they so slow. They need someone to always remind them about their work.
Me : Maybe they just need a little motivation.
Anonymous : Motivation huh? funny
Me : You know, I understand a little bit about egyptian during my time here. About the country's economics and all. To me personally, its not all their fault.. Maybe its just because their payment is a little low, so there are not much motivation to work hard.

Her expression changed a little.

Anonymous : You know how much I take a month? I take ______ LP. (about 5 time less than the allowance I received from my sponsorship monthly) I am actually embarassed. Its my country and my people. In the face of a foreigner, the least I can do is show a good example! Don't talk about the MAXIMUM ok.. the LEAST I can do. Even if you take 1 dolar, then you have a responsibility to work. I don't need someone to always push me behind for me to do my work. When there is someone who needs me, then why not work for it!

I was a little worried. Her emotion took over for a sudden. Maybe I said something wrong.

Me : I understand your feelings. During my first year being here I always despise egyptians who always lie, cheat and even steal to get a living. But by time, I began to rationalize things. To me, the harsh environment made them do something maybe they don't even want to do. It's forcing the poor upon acting wrongly. Of course, that does not justify their wrong doings, but to look it by a different picture helps emphatizing. And I got used to it. So I'm not really mad when things like this happens.

She took a deep breathe, and started to calm herself

Anonymous : Even if the environment is harsh, sometimes you just need to live with it. Maybe your pay is low. But is that a reason for you to be all lazy? The money won't last. But by Allah blessing, that will always make thing WORTHWHILE

Me : You know Miss Lina, its really rare to meet an egyptian that is hardworking and dedicated like you.
Miss Lina : Really, I'm flattered
Me :Working with you make things so much easier :)
Miss Lina : Same goes to you

P/S: 3rd year students of IUMP Alexandria University should know her

Belajar, Bekerja dan Mentarbhiah

Sesekali aku ke perpustakaan atau hadirkan diri ke dewan kuliah awal sebelum kuliah bermula, terlihatkan ramai daripada sahabat-sahabat sudahpun tekun membaca. Terasa kagum. Tetapi kadang-kala, terlintas juga, sedikit perasaan cemburu.. Aku yakin, mereka juga punya komitmen sendiri, tetapi sentiasa fokus dan bersemangat mengulangkaji. Aku pula selalu kehilangan tumpuan itu. Membahagikan masa sebagai seorang pelajar, wakil pelajar, dan tarbhiah bukanlah suatu perkara yang mudah. Keputusan, sedikit merosot. Dan bukanlah kemerosotan itu yang aku risaukan. Takut-takut terbawakan contoh yang kurang baik kepada rakan-rakan lain. Aku minta maaf kerana tidak sempurna. Walau keseimbangan yang aku kejar, jaraknya terasa masih jauh. Prinsip yang aku pegang selama ini bahawa akademik itu perlu diutamakan, kebelakangan ini kurang aku hormati. Tetapi, walaupun pencapaian menurun, mungkin buat kali pertamanya aku tidak terasa runsing. Tidak seperti dahulu yang selalu kemurungan dan menyalahkan diri atas kegagalan. Kerana aku yakin, bahawa segala yang aku rasa, yang aku belajar bersama sahabat-sahabat, sepanjang mentarbhiah diri, bekerja, berinteraksi, semua mempunyai manisnya yang tersendiri.

Baru-baru ini, apabila aku berkunjung ke rumah sahabat yang akan menduduki "reseat exam", belajar bersama, berkongsikan sedikit pengetahuan yang ada, dalam masa itu banyak perkara yang aku belajar. Setiap orang tidak mempunyai kemampuan yang sama. Kita manusia. Lebih atau kurang masing-masing istimewa atas diri sendiri. Aku selalu menganggap asal kita bekerja keras, maka segalanya akan tercapai. Semangat mengulangkaji pelajaran yang ada pada seseorang itu akan menentukan sama ada dia berdiri teguh mahupun terjatuh. Namun pengalaman ternyata membuktikan aku salah. Aku merasakan mereka berusaha jauh lebih keras berbanding orang lain. Azam yang jauh lebih tinggi daripada orang lain. Tetapi apa yang dihajatkan belum tercapai. Maka seganlah kita untuk tidak berusaha lebih. Mereka perlukan semangat, perlukan sedikit bimbingan, yang kita sebagai rakan sekuliah jarang dapat berikan. Selama aku dirumah, dihadapan meja belajar bertemankan buku-buku medik yang bertimbun, selesa, bersemangat mencari keputusan yang terbaik. Namun tidak pernah terfikirkan mereka yang kurang mampu belajar berseorangan. Apalah makna kejayaan, bila mana ada sahabat yang ketinggalan. Kesalnya bila aku memegang tugas barulah terfikirkan tentang mereka, sedangkan aku hanya perlu menjadi seorang sahabat untuk membantu.

Amanah tugas yang aku pegang kini tidak lagi terasa sebagai suatu beban. Malah, ia semakin menjadi satu kegembiraan buat aku. Apatah lagi melihatkan sahabat-sahabat lain mendapatkan keputusan-keputusan yang baik. Sejak di zaman sekolah terlalu banyak berkhidmat untuk diri sendiri. Tiba masanya untuk hidup memberi. Tetapi sekadar lisan, bukanlah mudah atas perbuatan. Usrah pula tempat aku pautkan hati. Tempat di mana aku terasa paling selesa dan tenang. Jauh daripada masalah-masalah harian. Belajar, bekerja dan mentarbhiah, kesemuanya seiringan.

Harapan menggunung, tetapi tidak semua perkara yang kita hajatkan akan tercapai. Kita berusaha, dan atas usaha itu kita mengharapkan yang terbaik. Atas segala kekangan masa, aku tersenyum. Kerana atas jalan ini hari demi hari aku peroleh kematangan dalam berfikir, menilai, dan membuat keputusan. Dan belajar, bekerja dan mentarbhiah itu sesuatu putaran yang tiada pernah henti. Hanya perlu lebih bijak membahagikan masa dan berusaha lebih. Jadi mengapa terasa letih? Mengapa perlu dikeluhkan? Setapak demi setapak kita ke depan. Menuju suatu matlamat yang lebih pasti..

85. Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

86. Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.
Surah An-Nisa'

Relationship

I spend most of my holidays reading books. A part from them are the book entiltle "Aku Terima Nikahnya" by Ustaz Hasrizal Abbdul Jamil and "MEN Are from MARS WOMEN Are from VENUS" by Dr John Gray. I learned a lot. I know. Some of the content are still early for me to digest. But I believe theres nothing wrong in preparing oneself early to face the coming big day of our lives, marriage. Eventually, one will know when he is prepared according to his circumstances. And eventually, one will have to choose someone, to share and be part of his life. The success of a marriage is influenced by an throughout understanding about resonsibilities and feelings towards one another. But the more crucial stage depends on the preparation of oneself to face a marriage and choosing the right one. Tough I must admit the only setback in reading the book is your mind will start wandering around about the subject and it's gonna last quite sometime. The thought might be temporary but the mindset last forever.
























Its not hard to see why most of our teenagers or young adults get the wrong idea about relationship. And it's not really about they do not know that their doings are wrong. Its just that they let it be. Staying ignorant of their sins and have fun with the one they seems to like. Most teengers and undergraduates values looks over personalities. And why not if its only for a short period with she or he. Temporary entertainment it would seem. One that wil last so seldom. To feel better when they are lonely. In the end, for whats worth they will look for somebody nice and steadfast on Islam to marry instead.

I have a friend of mine. An ordinary person with little exposure to know about Islam. And yes the person experienced crushes and dates. Like walking, having lunch and watching a movie together. Those were high school life where a teenager are at their most intriging behavior. The period where parents should pay their most intention towards their children development in my opinion. Of course, after finishing school life is different. Studying as an undergraduate at UiTM now, not so long ago we had a little chat on yahoo messanger. At first it was all about hows life is going on campus, and later the talk about relationship made its entry to the frame. My friend needed counseling wandering if there will ever be someone who would guide, and show the way to understanding Islam. How hard it is in the person's place to meet with such person.

From what I learned from the conversation, everyone is faithful to have a guiding partner who knows, wants and able to perform Islam as the way of life. I will say to find the right person mention is only half of the challenge. To be the person that someone will want to marry is the hardest part.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). An-Nur ayat 26

Some of us after hearing this verse feels discourage. To say that they do not belong to that group of people and thus do not deserve to be with kind loving individuals. Take it as a motivation. With enough courage, one can always change his ways. I always believed that everybody have that feeling to be a better person. Its just a matter of support and motivation. For the best towards his friends and family. And most importantly, towards enslaving himself.

To reflect it upon another situation. When two person who is looking to improve themselve and finding someone kind with strong belief towards Islam happens to meet one another. Both believe they have found the right person. But sadly, due to lack of understanding perhaps, both who are trying so hard seems to stray away from their path. Mistakenly without notice, the intention are goods, but directed to win the heart of someone and not properly directing the intention to Allah.

Of course from all the thing I say, everything is directed back towards me. I myself, is trying to improve my understanding towards this beautiful religion and keep clean of my everyday deeds. And of course, somehow hoping for the right person. But as for the time being, personally, I believe that this is not truly the time to be thinking about relationship. Take this writing as something to ponder. Something that should be reminded from time to time. For we should not lose our focus in what we should truly concentrate on. The time will come insyaAllah. Maybe in the near future or maybe so distantly. Allah knows best. And until that day, hopefully and faithfully, we hope to be a better person each day. Amin....

Jeddah

7 hari di Jeddah merupakan hari-hari yang paling mencabar. Bukan kerana perintah berkurung 16 jam, risiko keselamatan rumah, bunyi das-das tembakan yang dilepaskan di udara, atau bekalan makanan yang terhad. Semua itu di mesir. Dan di Jeddah, faktor-faktor yang disebutkan langsung tidak menjadi masalah. Mungkin, populasinya padat, dan kami hanya tidur di atas carpet berbantalkan timbunan baju. Tetapi itu juga bukan sesuatu untuk dirunsingkan. Namun yang mencabar diri ialah masa.

Masa
Terlalu lapang masa di Jeddah. Hari berganti hari, tiada aktiviti yang boleh dilakukan. Kebenaran untuk keluar juga tidak diberi kerana kami hanya diberi visa sementara untuk menginap di asrama tabung haji sahaja. Plug dan extension pula terhad. Tidak ramai yang boleh mengunakan laptop dalam masa yang sama. Terpaksa berganti-ganti. Maka kebanyakkan masa dihabiskan dengan makan, tidur, kemudian bersembang, dan putarannya berulang semula. Mujur sedikit persiapan sudah dilakukan. Aku ditemani buku-buku ilmiah yang aku bawa dari mesir. Bersertakan pen dan buku nota kecil untuk aku menulis. Juga dengan camera dslr yang aku bawa ke mana-mana sahaja setiap kali aku berjaulah atau bermusafir. Walaubagaimanapun, itu masih belum cukup untuk aku mengelakkan masa-masa berlalu tampa perkara-perkara yang berfaedah untuk dilakukan. Sungguh masa itu memberi tekanan. Terasa rugi kerana tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Ditambahkan tekanan itu dengan jadual masa penerbangan untuk pelajar-pelajar pulang ke Malaysia yang tidak menentu dan waktu-waktu penerbangan yang tertangguh. Sungguhpun begitu aku tidak menyalahkan pihak urussetia kerana sudah tentu menguruskan penginapan, makanan, dan penerbangan pulang ke Malaysia bukan sesuatu yang mudah. Aku yakin mereka telah memberikan yang terbaik. Namun beginilah yang telah ditentukan-Nya untuk kami. Cuma perlu mencari pengajaran dan jalan penyelesaian yang terbaik.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al-'Ashr 1-3)

Daripada Abu Hurairah r.a beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda:
Sebahagian daripada keelokan seorang mukmin ialah meninggalkan apa yang tidak berfaedah baginya.


Marah
Sudah cukup dengan peranan media barat yang mengapi-apikan keadaan di mesir serta menyebarkan fitnah dan tafsiran yang melampaui batas, perkara-perkara yang berlaku di Jeddah tidak kurang hebatnya dalam menguji kesabaran.

Sabda Rasulullah S.A.W.
Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang menahan dirinya ketika marah.

Daripada Abu Hurairah r.a.:
Bahawa seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW: Berikan daku wasiat. Baginda bersabda: Janganlah engkau marah. Lelaki itu mengulangi soalan itu beberapa kali. Baginda tetap bersabda: Janganlah engkau marah.
Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari.


Ditenangkan juga hati.
Peristiwa yang betul-betul menguji ialah sewaktu menghantar passport ke kaunter urussetia untuk urusan penempahan tiket pulang ke Malaysia. Sistem yang dilaksanakan adalah pelajar yang tiba awal diaturkan untuk pulang awal dan pelajar yang tiba kemudian mengusuli selepasnya. Pengumuman dibuat untuk mahasiswa-mahasiswa dari mesir yang tiba di Jeddah pada 5/2 dari 12.00 tengahmalam hingga 12.00 tengahhari menghantar passport dahulu. Apa yang berlaku ialah ada dikalangan pelajar yang tiba selepas pukul 12.00 tengahhari turut menghantar passport. Ada juga yang tiba pada 6/2 juga menghantar sama. Aku tiba pada 11.30malam 5/2. Oleh kerana itu aku bersama beberapa rakan lain tidak sanggup untuk menghantarnya awal kerana takut-takut ada yang sampai awal terambil haknya. Disebabkan beberapa masalah, urussetia tidak mempunyai rekod tentang ketibaan pelajar-pelajar di jeddah sama ada awal atau lewat. Dan disebabkan itu, ramai yang mengambil kesempatan. Tiba giliran kami untuk menghantar passport, lain pula jadinya. Rakan yang beratur di hadapan diberikan passport oleh rakan-rakan lain yang tidak ada di dalam barisan. Bagi seorang pelajar, ada yang memegang lebih 10 passport. Situasi menjadi semakin tegang apabila orang yang sedang beratur di belakang mula berasa marah dengan barisan yang tidak bergerak dan perkataaan-perkataan kesat mula dikeluarkan sehingga hampir-hampir menjadi perang mulut. Nampak masing-masing sudah mula mengutamakan diri sendiri. Walaupun giliran kami untuk menghantar passport, kami mengambil keputusan untuk menghantar pada waktu-waktu akhir.

Mengapa tidak membeli tiket persendirian?
Alhamdulillah, aku dan keluarga mampu membeli tiket persendirian. Namun terasa berat juga membeli. Jauh dalam lubuk hati terfikir yang kemampuan aku dari segi kewangan tidak dinikmati oleh semua. Aku mendapat tajaan MARA, tetapi masih ramai lagi yang datang ke mesir untuk menuntut ilmu dengan duit hasil usaha mak dan ayah sendiri. Bukan semuanya datang daripada keluarga berada. Usah diceritakan pula tentang pelajar-pelajar dirasat yang mengharapkan ehsan daripada badan kebajikan anak negeri (BKAN) menghulurkan zakat semata-semata dan ada juga yang berkeluarga dan terpaksa berniaga. Ada juga pelajar yang terpaksa pulang lambat menolong pihak urussetia asrama tabung haji Jeddah menguruskan hal-ehwal pelajar lain. Sekurang-kurangnya, aku ingin berada dalam kelompok yang sama.

Ada perkara lain yang mana aku memerlukan duit untuk laksanakan. Tidak sampai hati juga meminta duit daripada Ibu.

Andai aku pulang awal ke Malaysia pula, belum tentu lagi waktu-waktu di sini aku mampu mengisi dengan sepenuhnya. Sekurang-kurangnya dengan kekosongan hiburan si Jeddah membuatkan aku lebih rajin membelek bahan-bahan ilmiah.

Bantuan
Alhamdulillah, masa kami sedikit terisi dengan program-program terbuka kecil-kecilan yang dibuat oleh ikhwah-ikhwah ISMA mesir. Banyak pengisian yang diberi. Kami juga sempat beriadah apabila ada sahabat kami dari muhafazah lain yang sudah pulang lebih awal meninggalkan sebiji bola sepak untuk digunakan.

Pengajaran
Berat fikiran dalam melayani perasaan. Namun kami berbincang dan sama-sama menenangkan hati masing-masing. Setelah itu, sebenarnya banyak pengajaran yang kita boleh ambil. Bila kita lihat semula, mengapa perkara-perkara seperti di atas berlaku. Andai dikatakan kerana sistem yang kurang pemantauan, jumlah pelajar yang terlalu ramai dan keadaan yang agak mendesak, mungkin juga. Tetapi itu bukanlah masalah utama. Jawapan sebenar terletak pada ukhuwah kita. Tali persaudaraan kita sesama muslim sebenarnya masih belum cukup kuat lagi. Kita gagal bersangka baik sesama sahabat apatah lagi mahu mencapai tahap mengutamakan orang lain. Husnuzon itu adalah serendah-rendah ukhuwah dan i'sar itu adalah setinggi-tingginya. Apabila keadaan mendesak, kita cendurung mementingkan diri sendiri. Akan tetapi kita perlu yakin, apabila kita menjaga hak seseorang, orang lain akan menjaga hak kita. Jika kita mengambil hak seseorang, orang lain akan mengambil hak kita. Lambat laun, mungkin bukan dalam kehidupan duniawi, Allah akan membalas segala kebaikan dengan kebaikan dan segala keburukan dengan keburukan. Jadi jangan takut untuk mengalah terhadap sesuatu perkara dan hiduplah dengan memberi kerana memberi itu mendatangkan bahagia.

Bertaqwalah engkau kepada Allah walaupun di mana engkau berada, dan iringilah kejahatan dengan kebaikan, nescaya ia akan menghapuskan kejahatan tersebut dan bergaullah sesama manusia dengan budi pekerti yang baik.
Hadis riwayat al-lmam al-Tirmizi.


Sahabat yang baik adalah satu nilai yang tiada tolak bandingnya. Bila-bila kita terasa susah hati, terasa berat bebanan yang dipikulkan, sahabatlah yang akan meringankan. Satu hari itu, berlaku masalah apabila no giliran aku tertindih dengan no giliran orang lain. Bermakna ada dua pelajar yang mempunyai no giliran yang sama. Aku dan seorang lagi pelajar akhawat. Namaku terpaksa dipindahkan ke senarai nama penerbangan lain untuk beri laluan kepada pelajar akhawat dahulu. Waktu itu mukaku akan muram. Dan seorang sahabat berkata : "Sebenarnya Allah nak menguji kau. Orang yang banyak menyuruh orang bersabar sentiasa akan diuji untuk paling bersabar" Aku hargai kata-kata ini,

Bersabar dan bersyukur. Sesungguhnya sabar itu separuh daripada iman.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Al-'Ankabuut Ayat 2-3

Andai di sini jika kita mahu cepat pulang ke Malaysia kita boleh membeli tiket persendirian. Tetapi jikalau di padang Mashar kelak tidak akan ada jalan pintas. Bersedia tidak bersedianya kita pada hari itu bergantung kepada persiapan kita hari ini.








Alhamdulillah, selesai menulis entry ini, seudah genap 2 hari aku pulang ke Malaysia. Ingin mencari usrah dan daurah agar dapat ku manfaatkan sepenuhnya.

yakin dan terus kuat

Hadis diriwayatkan oleh al-lmam Muslim dengan lafaz ini.
Daripada Abu Hurairah r.a. daripada Nabi SAW, Baginda telah bersabda:
Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskannya daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan Qiamat. Barangsiapa yang mempermudahkan bagi orang susah, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup ke'aiban seorang muslim, nescaya Allah akan menutup ke'aibannya di dunia dan akhirat. Allah sentiasa bersedia menolong hambaNya selagi mana dia suka menolong saudaranya.

Biarlah, sejauh mana buruk diperkatakan.. Sejauh mana fitanh tersebar.. Kalau dibenci sekalipun, aku tidak akan membenci.. Malah, aku harap aku boleh membalas dengan madu. Seperti kata Habil kepada abangnya Qabil : "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." Al-Maidah ayat 28
Selagi mana aku boleh mengembirakan hati kedua ibu bapaku.. Selagi mana aku boleh berterusan memperbaiki kelemahan diri.. Selagi aku menjaga ukhwah.. Dan selagi mana aku boleh bekerja dan berkhidmat untuk kebaikan orang lain.. Aku faham, aku yakin.. Ini jalanku.. Dan menjalaninya memberikan aku farhan..